Jumat, 26 Maret 2021

ADA APA DENGAN FUTUR?

DEFINISI FUTUR

Futur, secara bahasa mempunyai dua makna.
Pertama yaitu terputus setelah bersambung, terdiam setalah bergerak terus.
Kedua yaitu malas, lamban atau kendur setelah rajin bekerja.

Futur secara istilah merupakan suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah terus-menerus melakukan ibadah. Ar Râghib berkata, “Futûr ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, dan lemah setelah kuat.”

Futur, kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara – Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah dan menjadi lunak. Atau diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Orang yang futur mengalami penurunan kuantitas dan kulaitas amal shalih/ibadah. Atau ia mengalami kemerosotan atau kemalasan pada keimanan atau keislamannya.

Dalam konteks amal dakwah, Futur adalah satu penyakit yang menimpa aktivis dakwah dalam bentuk rasa malas, menunda-nunda, berlambat-lambatan dan yang paling buruk ialah berhenti dari melakukan amal dakwah. Sedangkan sebelumnya ia adalah seorang yang aktif dan beriltizam (rajin).


DASAR PIJAKAN SYAR'I :

1. Al Qur'an
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”
(QS Ali Imran: 146).



2. Sunnah
Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah bersabda pada sebuah riwayat dari Abdullah bin Amr ra. Yang berbunyi,
“Setiap amal itu ada masa semangat dan masa lemahnya. Barangsiapa yang pada masa lemahnya ia tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka dia telah beruntung. Namun barang siapa yang beralih keadaan selain itu, berarti dia telah celaka.”
(Musnad Imam Ahmad, 2/158-188.)


Fenomena ‘futur’, sebenarnya masalah yang pasti hadir tanpa ada seorang pun yang dapat mengelak darinya. Sebagaimana tersirat dalam sinyalemen Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam kepada Abdullah bin Amr bin Ash, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, sebelum ini ia rajin bangun pada malam hari (shalat tahajjud), namun kemudian ia tinggalkan sama sekali.”
(HR. Bukhori, dalam kitab Fath Al Bari, no: 1152, 3/37)

Manusiawi jika rasa semangatnya kadang naik kadang turun. Para sahabatpun yang terkenal akan ketulusan dan semangatnya dalam berdakwah pernah mengadu pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam mengenai keadaan mereka yang apabila berada dekat dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam, mereka merasakan keimanan dan semangat yang tinggi, ibadah dan amaliah mereka sangat berkualitas. Tapi ketika mereka tidak sedang bersama lagi mereka kembali lemah, malas dan tidak bersemangat. Mengenai hal ini Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Iman itu kadang naik kadang turun, maka dari itu perbaikilah dengan kalimat Laa Ilaha illa Allah.”


GEJALA FUTUR
 Para ulama meletakkan beberapa tanda (alamat) yang dengannya dapat diketahui apakah seseorang itu terjangkiti penyakit futûr atau tidak. Ada banyak tandanya, namun tanda-tanda yang terpenting adalah sebagai berikut:

1.  Bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan, 
Namun dalam hal  ini tidak bermakna meninggalkan ibadah-ibadah fardhu. Sebab jika ibadah fardhu ditinggal maka seseorang itu berstatus fâsik, ‘âshy (pelaku kemaksiatan), 

 “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”
(QS At Taubah: 54).

2.  Merasakan kekerasan dan kekasaran hati. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(QS Al Hadîd: 16). 

Tanda-tanda keras hati :

(1)  Kering air matanya dari menangis karena Allah.
(2)  Tidak tersentuh hatinya saat mendengar ayat-ayat Allah.
(3)  Nasehat kematian kurang/tidak bermanfaat.
(4)  tidak merasakan khusu’nya sholat.
(5)  Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yang ada di pundaknya.
(6)  Ia tidak mau memikul beban dakwah, 
(7)  Perhatian yang besar terhadap dunia, sibuk dengan urusan-urusan duniawi dengan jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah ta’ala.
(Qs. Al-qosos: 77)
(8)  Banyak ngomong pada hal hal yang tidak bermanfaat. 
(9)  Menyia-nyiakan waktu tanpa faidah. Majelis orang-orang taat diketahui dengan dzikrullah di dalamnya,
 Majelis orang-orang maksiat diketahui dengan kemaksiatan-kemaksiatan di dalamnya. 
Sedang majlis orang-orang futur diketahui dengan banyaknya pembincangan tak berguna di dalamnya.
(10)  Meremehkan dosa-dosa kecil, padahal tidak ada dosa kecil jika dilakukan berkali-kali atau terus-terusan.
(11) Gemar menunda-nunda pekerjaan. Barangsiapa yang mentadabburi firman Allah berikut ini, maka ia akan memahami hakikat dari penundaan. “Janganlah kamu pergi berangkat (berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih panas(nya), jika mereka mengetahui.”
(QS At Taubah: 81)



SEBAB FUTUR

1. Berlebihan Dalam Din (Agama).

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim)

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu. “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu kerana sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.”
(HR. Bukhari & Muslim).

2. Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.
Allah berfirman,
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS Al A‘raf: 31)

3. Memisahkan diri dari jamaah.
Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah). Jauhnya seseorang dari jamaah membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah bersabda: “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.”
(HR. Ahmad)

4. Kecewa dan Sakit Hati.
Kekecewaan terhadap teman-teman, jama’ah dakwah, yayasan dakwah, janganlah membuat seorang muslim ideal/pencari ilmu/ da’i/ustadz berhenti beramal, berhenti berdakwah, futur, lesu dan uzlah dari manusia. Anjing menggonggong kafilah berlalu, tetaplah berjuang dan iqomatuddin di medan dakwah dan medan juang. Karena muslim yang ideal paham hanya mengharapkan upah dari Allah Ta’ala bukan dari manusia. Hingga membuatnya tetap ikhlas dan istiqomah walau badai, ujian dan makian menghampirinya. Yang harus dipahami disini bahwa manusia, ustadz, da’i dan jamaah dakwah apapun  bukan jamaah malaikat,

5. Sedikit mengingat akhirat.
Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatkan adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya surga dan ngerinya neraka.”
(HR. Muslim)

6. Masuknya barang haram ke dalam perut.
Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.”
(HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599)

7. Bersahabat dengan orang-orang yang lemah.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda:
“Seseorang sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan siapa ia berteman.”
(HR. Abu Daud)

8. Spontanitas dalam beramal.
Tidak ada perencanaan yang baik, baik dalam skala individu (fardi) maupun komunitas (jama’i). Amal yang tidak terencana, tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

9. Jatuh dalam kemaksiatan.
Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi,sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Menjaga diri sendiri saja kesulitan, apalagi orang lain.

10. Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan.
“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.”
(Qs. At Taghaabun: 14)