Sebagai manusia tidak bisa kita pungkiri bahwa kita tidak selamanya baik, dan tidak pula selamanya benar. Adakalanya terpeleset berbuat kemaksiatan baik dalam skala kecil maupun besar. Hal itu wajar namun yang perlu dilakukan adalah segera memperbaiki diri dengan tidak berlarut-larut di dalamnya dan bertobat kepada Allah atas segala kesalahan.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون ) حسن. صحيح الترغيب والترهيب [ 3139 ].
“Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).
Aib diri secara adab islami untuk ditutupi bukan untuk diumbar atau diceritakan pada orang lain dengan kebanggaan, agar Allah berkenan untuk mengampuninya. Coba kita perhatikan hadits berikut :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ)
Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk ) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk ). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990 )
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Rasul bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu – padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR Bukhori Muslim).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
"Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunyikan aib). [Riwayat Abu Dawud dan Nasâ-i].
Dari hadits di atas Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan pada kita agar selalu metutup aib diri dengan mengedepankan rasa malu sehingga berhak mendapatkan ampunan Allah SWT
Begitu indahnya Islam, didamping mengajarkan bagaimana bersikap terhadap aib diri juga mengajarkan untuk menutupi aib saudara jika sempat mengetahui baik dengan sengaja atau pun tidak sengaja.
Nabi shalallahu alaihi wasallam telah bersabda :
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” [HR. Tirmidzi]
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim]
Coba kita perhatikan hadits di atas, Allah SWT memberikan jaminan menutup aib di dunia dan akhirat.
Aib ditutup di dunia bisa kita bayangkan dan rasakan, yakni kita tidak perlu malu lagi jika bertemu dengan manusia. Namun bagaimana aib ditutup di akhirat, apakah kepentingannya buat diri kita?
Untuk dapat membayangkannya dan dapat merasakan urgensinya, kita simak firman-Nya
(یَوۡمَ یَجۡمَعُكُمۡ لِیَوۡمِ ٱلۡجَمۡعِۖ ذَ ٰلِكَ یَوۡمُ ٱلتَّغَابُنِۗ وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَیَعۡمَلۡ صَـٰلِحࣰا یُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَیِّـَٔاتِهِۦ وَیُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۚ ذَ ٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ)
"(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
[ Surat At-Taghabun 9]
Selanjutnya mari kita simak tafsirnya,
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
9. يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ((Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan)
Yakni pada hari kiamat, sebab manusia akan dikumpulkan pada hari itu di padang mahsyar untuk mendapat balasan, serta katika itu manusia akan dikumpulkan dengan amalannya, nabi akan dikumpulkan dengan umatnya, orang zalim akan dikumpulkan dengan orang yang dizaliminya, dan orang yang terdahulu akan dikumpulkan dengan orang yang terkemudian.
ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ( itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan)
Yakni hari manusia saling menagih haknya, orang yang benar akan menagih hak terhadap orang yang batil, dan tidak ada kerugian yang lebih besar melebihi ketika calom penghuni surga menagih calon penghuni neraka, seakan-akan penghuni neraka mengganti kebaikan dengan keburukan dan kenikmatan dengan azab, sedangkan penghuni surga kebalikan dari itu.
Kalimat (غبنت فلانا) jika kamu menjual atau membeli dari seseorang namun kerugian harus ditanggung oleh orang tersebut, itulah makna asal kata (الغبن). Sehingga orang yang merugi adalah orang yang kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya di surga.
وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّـهِ وَيَعْمَلْ صٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ(Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya)
Yakni barangsiapa yang beriman dan melakukan amal shaleh maka ia berhak untuk dihapus kesalahan-kesalahannya.
Alhamdulillah jelaslah sudah sekarang mengapa kita perlu menjaga aib diri, yakni agar Allah SWT berkenan memberikan ampunan. Dan mengapa pula kita perlu menutupi aib saudara muslim, yakni agar kelak Allah menutupi aib kita di saat kesalahan-kesalahan ditampakkan dengan mengampuninya. Sehingga layak untuk mendapatkan surga-Nya.
Wallahua'lam