Sabtu, 08 Februari 2020

TERJAGA AIB DUNIA AKHIRAT

Sebagai manusia tidak bisa kita pungkiri bahwa kita tidak selamanya baik, dan tidak pula selamanya benar. Adakalanya terpeleset berbuat kemaksiatan baik dalam skala kecil maupun besar. Hal itu wajar namun yang perlu dilakukan adalah segera memperbaiki diri dengan tidak berlarut-larut di dalamnya dan bertobat kepada Allah atas segala kesalahan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون ) حسن. صحيح الترغيب والترهيب [ 3139 ].

Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).

Aib diri secara adab islami untuk ditutupi bukan untuk diumbar atau diceritakan pada orang lain dengan kebanggaan, agar Allah berkenan untuk mengampuninya. Coba kita perhatikan hadits berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ)

Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk ) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk ). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990 )

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Rasul bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu – padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR Bukhori Muslim).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

"Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunyikan aib). [Riwayat Abu Dawud dan Nasâ-i].

Dari hadits di atas  Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan pada kita agar selalu metutup aib diri dengan mengedepankan rasa malu sehingga berhak mendapatkan ampunan Allah SWT

Begitu indahnya Islam, didamping mengajarkan bagaimana bersikap terhadap aib diri juga mengajarkan untuk menutupi aib saudara jika sempat mengetahui baik dengan sengaja atau pun tidak sengaja.
Nabi shalallahu alaihi wasallam telah bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ 
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. 
Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” [HR. Tirmidzi]

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim]

Coba kita perhatikan hadits di atas, Allah SWT memberikan jaminan menutup aib di dunia dan akhirat.
Aib ditutup di dunia bisa kita bayangkan dan rasakan, yakni kita tidak perlu malu lagi jika bertemu dengan manusia. Namun bagaimana aib ditutup di akhirat, apakah kepentingannya buat diri kita?
Untuk dapat membayangkannya dan dapat merasakan urgensinya, kita simak firman-Nya

(یَوۡمَ یَجۡمَعُكُمۡ لِیَوۡمِ ٱلۡجَمۡعِۖ ذَ ٰ⁠لِكَ یَوۡمُ ٱلتَّغَابُنِۗ وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَیَعۡمَلۡ صَـٰلِحࣰا یُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَیِّـَٔاتِهِۦ وَیُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ)

"(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
[ Surat At-Taghabun 9]

Selanjutnya mari kita simak tafsirnya, 
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

9. يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ((Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan)
Yakni pada hari kiamat, sebab manusia akan dikumpulkan pada hari itu di padang mahsyar untuk mendapat balasan, serta katika itu manusia akan dikumpulkan dengan amalannya, nabi akan dikumpulkan dengan umatnya, orang zalim akan dikumpulkan dengan orang yang dizaliminya, dan orang yang terdahulu akan dikumpulkan dengan orang yang terkemudian.

ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ( itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan)
Yakni hari manusia saling menagih haknya, orang yang benar akan menagih hak terhadap orang yang batil, dan tidak ada kerugian yang lebih besar melebihi ketika calom penghuni surga menagih calon penghuni neraka, seakan-akan penghuni neraka mengganti kebaikan dengan keburukan dan kenikmatan dengan azab, sedangkan penghuni surga kebalikan dari itu.
Kalimat (غبنت فلانا) jika kamu menjual atau membeli dari seseorang namun kerugian harus ditanggung oleh orang tersebut, itulah makna asal kata (الغبن). Sehingga orang yang merugi adalah orang yang kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya di surga.

وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّـهِ وَيَعْمَلْ صٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ(Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya)
Yakni barangsiapa yang beriman dan melakukan amal shaleh maka ia berhak untuk dihapus kesalahan-kesalahannya.

Alhamdulillah jelaslah sudah sekarang mengapa kita perlu menjaga aib diri, yakni agar Allah SWT berkenan memberikan ampunan. Dan mengapa pula kita perlu menutupi aib saudara muslim, yakni agar kelak Allah menutupi aib kita di saat kesalahan-kesalahan ditampakkan dengan mengampuninya. Sehingga layak untuk mendapatkan surga-Nya.

Wallahua'lam


Bekal hidup di akhir zaman



Saat rasulullah masih hidup beliau menyatakan bahwa jarak antara beliau dengan hari kiamat adalah sebagaimana dua jari. Hal ini telah dinyatakan dalam sebuah hadits, 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.

Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.”[ Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h).

Adapun jarak diutusnya beliau dengan hari ini sudah mencapai 1441 tahun. Jika diasumsikan usia manusia sebagaimana sunnah yaitu 60 tahun maka sekarang sudah mencapai 24 generasi, bukan waktu yang singkat. Dalam arti masa kita sekarang sudah makin mendekati apa yang beliau nyatakan dahulu.

Dalam menjalani hidup di akhir zaman banyak orang dipusingkan dengan apa yang perlu dilakukan. Ada yang mendesain rumah aman dari gangguan, ada juga yang berfikir untuk mencari lokasi aman dari hantaman. Namun tidak begitu bagi orang-orang yang beriman. Mereka hidup sebagaimana apa yang dituntunkan kekasihnya yakni nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Tempat dimana pun berada tidak masalah karena yang terpenting adalah kesiapan ruhiyah. 

Ada sebuah kisah yang patut menjadi  perhatian guna diterapkan dalam kehidupan sekarang yang sudah di akhir zaman.
"Seorang lelaki badui datang kepada Nabi SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat datang?”
“Apakah yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Beliau balik bertanya.
Lelaki itu menjawab, “Tidak ada, kecuali kecintaanku kepada Allah dan RasulNya…”
Dengan tersenyum, Nabi SAW memberi jawaban singkat, “Kamu bersama orang yang kamu cintai…
Orang tersebut berlalu dengan gembira.
Sahabat Anas bin Malik yang saat itu hadir dalam perbincangan tersebut dan meriwayatkan kisah ini berkata, “Tidaklah kami bergembira seperti gembiranya kami mendengar sabda Nabi SAW yang sangat singkat tersebut, yakni: ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.” 

Perhatian rasulullah shalallahu alaihi wasallam di saat ditanya kapan datangnya hari kiamat tidak serta merta menjawab waktunya namun lebih pada memperhatikan apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya. Maka  demikian juga  kita hendaknya tidak perlu terlalu ribut untuk memprediksi kapan waktunya tapi lebih melihat kenyataan dengan apa yang sudah dan akan disiapkan yaitu dengan resep yang sangat simpel yakni cinta Allah dan rasul-Nya.

Resep di atas memang sangat simpel namun jika diselami bekal cinta Allah dan rasul-Nya mempunyai makna yang sangat dalam. Karena konsekuensi cinta adalah tunduk dan taat. 
Maka dengan kata lain untuk dapat menjalani hidup di akhir zaman dengan tenang dibutuhkan ketundukan dan ketaatan pada Allah dan rasul-nya secara totalitas, tidak setengah-setengah dan tidak juga sepotong-sepotong atau yang sering disebut dengan istilah kaffah.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah  208
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ)

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Agar kita dapat menjalani Islam secara kaffah tentunya diperlukan banyak ilmu yang dapat menuntunnya. Maka perbanyaklah waktu yang digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu Allah guna meraih kecintaan-Nya dan kecintaan rasul-Nya. 

Setelah kita memahami bekal utama menghadapi kiamat adalah Islam kaffah. Maka untuk lebih memantapkan dan memotivasi diri bahwa kiamat benar-benar akan datang, kita perlu tengok hadits berikut :
"Sebaik-baik hari saat matahari terbit adalah Jumat; hari saat nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat,” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Kiamat akan datang pada hari Jumat itu adalah suatu kepastian. Namun Jumat yang kapan hanya Allah yang maha mengetahui.
Allah SWT berfirman :
(یَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَیَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّیۖ لَا یُجَلِّیهَا لِوَقۡتِهَاۤ إِلَّا هُوَۚ ثَقُلَتۡ فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَا تَأۡتِیكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةࣰۗ یَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِیٌّ عَنۡهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ)

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Surat Al-A'raf 187]

Wallahua'lam



MUFLIS



Sudah pernah dengar kah kita apa itu muflis ? Kalau sudah alhamdulillah, selanjutnya kita juga perlu memahami maksudnya.
Sebelumnya mari kita simak penuturan rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits berikut :

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman.  Ia pernah mencela saudaranya, Menuduh tanpa bukti (memfitnah), Memakan harta, Menumpahkan darah orang,
Memukul orang lain (tanpa hak).
Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah kebaikannya kepada orang-orang itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 6522)

Coba kita perhatikan hadits di atas,
Muflis atau Orang yang rugi/bangkrut sesungguhnya adalah orang yang rugi/bangkrut di akhirat. Bukan sebagaimana kebanyakan orang yang selama ini menganggap rugi hanya dilihat dari sisi materi di dunia, harta habis, ludes tidak tersisa, tidak dapat untung  untuk diri sendiri setelah melakukan banyak kebaikan, sehingga dalam otaknya hanya mau berbuat jika dirinya diuntungkan.

Namun kaca mata Islam lebih jauh ke depan dalam memaknai rugi/bangkrut yaitu rugi yg kekal abadi kelak di akhirat yakni neraka yang sangat panas. Karena emang rugi/bangkrut di dunia masih bisa diusahakan mencari solusi untuk bangkit kembali, bisa jadi dengan mencari sebab-sebabnya dan berusaha untuk memperbaikinya. Namun kalau sudah di akhirat sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya, yang ada hanyalah hasil akhir dari yang sudah diperbuat sebelumnya.

Selanjutnya mari kita cermati kembali hadits di atas, datang menghadap Allah dengan membawa banyak pahala shalat, puasa dan zakat. Dan perlu diketahui bahwa pahala ibadah akan didapatkan jika dalam melakukannya benar-benar ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntutan rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka bagaimana dengan kita?
 Padahal kalau kita mau sedikit muhasabah ibadah yang kita lakukan belum ada jaminan dapat pahala dari Allah. Dari sisi jumlah belum banyak yang tertunaikan, dari sisi kualitas bisa jadi karena kurang bisa menjaga ikhlas dari awal sampai akhir dalam beribadah atau juga kurang sempurna belum sebagaimana petunjuk rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka apakah yang  bisa kita banggakan dalam menghadap Allah? Modal ibadah tidak seberapa kedholiman serasa menjadi kebiasaan.

Selanjutnya akan kita ulas sedikit kedholiman yang akan membawa bencana kelak di akhirat, yakni :
#  Mencela saudaranya,
 jaman milenial gini sudah menjadi hal yang lumrah untuk saling mencela dengan berbagai macam alasan dan hampir pada semua bidang kehidupan. Kedholiman serasa menu harian, na'udzubillahiin dzaalik.
# Menuduh tanpa bukti (memfitnah), 
sudah jarang kita temui orang yang menghidupkan syariat tabayyun kecuali sedikit, yakni bertanya terlebih dahulu akan apa yang sedang dan telah terjadi pada orang yang berkompeten sehingga menghasilkan berita yang terpercaya. Bukan menuduh asal apa yang dilihat secara kasat mata saja, yang belum tentu kebenarannya.
#Memakan harta, 
Dengan kondisi ekonomi global yang makin terpuruk, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir manusia untuk berusaha sekuat tenaga dalam memenuhi kebutuhan hidup guna mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga. Dengan cara apa saja yang bisa dilakukan. Sehingga masalah halal haram tidak terlalu menjadi bahan pertimbangan dalam bertindak. Bagi yang sangat beriman pastinya berusaha untuk selalu menjaganya. Namun kebanyakan manusia  adalah asal dapat asal bisa hidup. Sehingga memakan harta saudara dengan cara bathil tidak menjadi masalah baginya. Padahal di akhirat urusannya panjang.
# Menumpahkan darah orang,
Begitu kacaunya kehidupan di akhir zaman, serasa segala kemauan manusia wajib tertunaikan walau harus meniadakan nyawa seseorang, na'udzubillahi min dzaalik.
#  Memukul orang lain (tanpa hak). 
Biasa terjadi hanya karena salah faham reflek tangan bertindak. Apalagi kalau merasa benar lebih membabi-buta tanpa memperhatikan level kesalahan yang bisa jadi pukulan melebihi semestinya. Astaghfirullah...

Semoga kita makin tersadarkan, dalam hidup, kedholiman yang berpeluang besar terjadi dengan mudahnya sangat perlu untuk direm agar kelak kita tidak merugi  di saat menghadap Allah SWT. Apalagi dengan type ibadah yang pas-pasan.
Hablumminallah dan hablumminnas harus benar-benar diselaraskan dalam peningkatannya agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Wallahua'lam