Saat rasulullah masih hidup beliau menyatakan bahwa jarak antara beliau dengan hari kiamat adalah sebagaimana dua jari. Hal ini telah dinyatakan dalam sebuah hadits,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.
“Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.”[ Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h).
Adapun jarak diutusnya beliau dengan hari ini sudah mencapai 1441 tahun. Jika diasumsikan usia manusia sebagaimana sunnah yaitu 60 tahun maka sekarang sudah mencapai 24 generasi, bukan waktu yang singkat. Dalam arti masa kita sekarang sudah makin mendekati apa yang beliau nyatakan dahulu.
Dalam menjalani hidup di akhir zaman banyak orang dipusingkan dengan apa yang perlu dilakukan. Ada yang mendesain rumah aman dari gangguan, ada juga yang berfikir untuk mencari lokasi aman dari hantaman. Namun tidak begitu bagi orang-orang yang beriman. Mereka hidup sebagaimana apa yang dituntunkan kekasihnya yakni nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Tempat dimana pun berada tidak masalah karena yang terpenting adalah kesiapan ruhiyah.
Ada sebuah kisah yang patut menjadi perhatian guna diterapkan dalam kehidupan sekarang yang sudah di akhir zaman.
"Seorang lelaki badui datang kepada Nabi SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat datang?”
“Apakah yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Beliau balik bertanya.
Lelaki itu menjawab, “Tidak ada, kecuali kecintaanku kepada Allah dan RasulNya…”
Dengan tersenyum, Nabi SAW memberi jawaban singkat, “Kamu bersama orang yang kamu cintai…
Orang tersebut berlalu dengan gembira.
Sahabat Anas bin Malik yang saat itu hadir dalam perbincangan tersebut dan meriwayatkan kisah ini berkata, “Tidaklah kami bergembira seperti gembiranya kami mendengar sabda Nabi SAW yang sangat singkat tersebut, yakni: ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.”
Perhatian rasulullah shalallahu alaihi wasallam di saat ditanya kapan datangnya hari kiamat tidak serta merta menjawab waktunya namun lebih pada memperhatikan apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya. Maka demikian juga kita hendaknya tidak perlu terlalu ribut untuk memprediksi kapan waktunya tapi lebih melihat kenyataan dengan apa yang sudah dan akan disiapkan yaitu dengan resep yang sangat simpel yakni cinta Allah dan rasul-Nya.
Resep di atas memang sangat simpel namun jika diselami bekal cinta Allah dan rasul-Nya mempunyai makna yang sangat dalam. Karena konsekuensi cinta adalah tunduk dan taat.
Maka dengan kata lain untuk dapat menjalani hidup di akhir zaman dengan tenang dibutuhkan ketundukan dan ketaatan pada Allah dan rasul-nya secara totalitas, tidak setengah-setengah dan tidak juga sepotong-sepotong atau yang sering disebut dengan istilah kaffah.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah 208
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰتِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ)
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Agar kita dapat menjalani Islam secara kaffah tentunya diperlukan banyak ilmu yang dapat menuntunnya. Maka perbanyaklah waktu yang digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu Allah guna meraih kecintaan-Nya dan kecintaan rasul-Nya.
Setelah kita memahami bekal utama menghadapi kiamat adalah Islam kaffah. Maka untuk lebih memantapkan dan memotivasi diri bahwa kiamat benar-benar akan datang, kita perlu tengok hadits berikut :
"Sebaik-baik hari saat matahari terbit adalah Jumat; hari saat nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat,” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Kiamat akan datang pada hari Jumat itu adalah suatu kepastian. Namun Jumat yang kapan hanya Allah yang maha mengetahui.
Allah SWT berfirman :
(یَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَیَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّیۖ لَا یُجَلِّیهَا لِوَقۡتِهَاۤ إِلَّا هُوَۚ ثَقُلَتۡ فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَا تَأۡتِیكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةࣰۗ یَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِیٌّ عَنۡهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ)
"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Surat Al-A'raf 187]
Wallahua'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar