Selasa, 03 Maret 2020

RASULULLAH TELADAN DALAM BERDOA

Sebagai manusia biasa kita semua menyadari bahwa kita banyak diliputi kekurangan dan hanya Allah lah yang Sempurna.  Disamping banyaknya kekurangan ternyata kita juga banyak kemauan dan keinginan, yang tidak semuanya mampu kita penuhi walau mengerahkan segenap kekuatan. Berkat pertolongan Allah lah semua urusan jadi serasa lebih mudah.

Permohonan pertolongan kepada Allah, dalam Islam disebut doa. Sehingga bisa kita fahami doa merupakan kebutuhan manusia sebagai seorang hamba yang lemah. Dan doa itu sangat menguntungkan kita di dunia juga di akhirat, karena bagi orang-orang yang mau berdoa akan dikabulkan juga akan mendapat pahala. 

# Allah SWT berfirman :

(وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ)

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [Surat Ghafir 60]

Ada tiga bentuk pengabulan doa dari Allah, sebagaimana hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri ra, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tak ada seorang muslim yang berdoa meminta sesuatu yang tidak mengandung dosa dan pemutusan tali kekeluargaan kecuali akan diberi oleh Allah satu diantara tiga hal : dikabulkan segera doanya sesuai yang ia minta atau disimpan di akhirat atau digantikan dengan pencegahan bahaya yang akan terjadi padanya." (HR. Ahmad no. 11133, Al-Bazzar, Abu Ya'la dan Al-Hakim)

Yang tak mau berdoa akan dimurkai Allah
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka padanya." (HR. At-Tirmidzi no. 3373)

Dalam hadits dari Nu'man bin Basyir,  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Doa itu ibadah". (HR. Abu Daud no. 1479, At-Tirmidzi no. 3369, Ibnu Majah no. 3827. Dishahihkan oleh Albani dalam shahih At-Targhib, no. 1627)

Berhubung doa dalam Islam termasuk  ranah ibadah maka dalam implementasinya perlu diperhatikan cara kerjanya sesuai petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Secara umum doa dibagi menjadi dua :
1. Doa di dalam shalat
2. Doa di luar shalat

Adapun doa di dalam sholat sudah tidak bisa ditawar dalam melakukannya harus persis sebagaimana yang Rasulullah contohkan, sebagaimana hadits

صلوا كما رأيتموني أصلي

Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. (HR. Bukhari)

Adapun untuk doa di luar shalat yang sering menjadi pemenuhan kebutuhan hajat manusia, pada hakikatnya dengan bahasa dan susunan kalimat apapun Allah sangat memahaminya karena Allah emang Maha Mengetahui. Jangankan yang dilafadzkan, yang dalam hati pun Allah mengetahuinya.

# (إِنَّ ٱللَّهَ عَـٰلِمُ غَیۡبِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ عَلِیمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ)

Sungguh, Allah mengetahui yang gaib (tersembunyi) di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. [Surat Fathir 38]

Dan yang penting untuk kita fahami bahwa ada kalanya bahkan sering sekali pemikiran manusia meminta sebatas yang menjadi hajatnya sendiri dengan cakupan yang sangat sempit. Padahal Rahmat Allah itu sangat luas.
Adapun rasulullah sudah banyak mencontohkan lafadz doa hajat manusia dengan bahasa yang simpel namun sarat makna. Dan hal ini dikarenakan keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yakni beliau diberikan jawami’ al kalim, yaitu kemampuan untuk berkata-kata ringkas namun padat dan luas maknanya. Demikian pula dalam keumuman doa-doa beliau.

Berikut contoh doa pemenuhan hajat manusia yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

1. Doa sapu jagad

رَبَّنَا آَتِنَا فِي  الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.   

ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR.

Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa :

دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:اللَّهُمَّ آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

 وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 doa yang paling sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “ALLOHUMMA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. (Artinya: Ya Allah, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, 8:187-188; Muslim, no. 2690]
 
Maka dalam aplikasinya,
Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya, “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim, no. 2690)

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, “Tidaklah seorang nabi maupun orang saleh berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fath Al-Bari, 2:322)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat kesehatan, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik, serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. 

Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam doa ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.

Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Adapun ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ bersifat umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17:13)

2. Doa kelapangan rizki/kekayaan
Kita semua manusia sangat mendambakan kehidupan yang menyenangkan, dengan terpenuhinya segala yang diinginkan.
Sehingga secara keumuman orientasi pikiran  hanya pada yang bisa dirasa dan dilihat oleh kasat mata. Namun beda dengan cara pikir rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang jauh lebih ke depan, disamping mohon kecukupan dunia ternyata dalam berdoa lebih mendahulukan kebaikan agama dengan mohon petunjuk, ketaqwaan dan penjagaan, yang tertuang dalam hadits berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى» )

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:
/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”
(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya)

Doa ini mencakup 4 permohonan agung; yaitu: memohon petunjuk, takwa, terjaga dari hal buruk (‘iffah) dan kecukupan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Kitabnya Bahjat Qulûb al-Abrâr berkata mengomentari hadits tersebut: “Ini adalah di antara doa yang paling komprehensif dan paling bermanfaat. Tercakup dalam doa ini permohonan kebaikan agama dan juga dunia. Karena al-hudâ (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat.

Sedangkan at-tuqâ adalah amal shalih dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan hal itu, (pengamalan) agama pun menjadi baik. Sebab agama adalah (memuat) ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan yang benar; dan itulah al-hudâ. Sedangkan menunaikan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, itulah at-tuqâ.

Adapun al-‘afâf (‘iffah ; menjaga diri dari hal yang buruk) dan al-ghinâ (kecukupan, kekayaan) terkandung di dalamnya menjaga diri sehingga tidak bergantung pada sesama makhluk dan tidak menautkan hati pada mereka. Juga merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla dan rezeki-Nya, serta merasa qana’ah (menerima) apa yang ada, dan mendapatkan kecukupan yang membuat hati menjadi tenang. Dengan demikian terwujudlah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan hati ; dan inilah kehidupan yang nyaman (hayat thayyibah). Maka barangsiapa yang diberi anugerah petunjuk, takwa, diri yang terjaga dan kecukupan, maka ia telah menggenggam kebahagiaan dunia dan akhirat. Tercapailah untuknya semua yang didambakan, dan selamat dari setiap hal yang ditakutkan.

Dari dua contoh doa di atas, akan sangat melelahkan kalau kita harus merangkai kata seluruh kebutuhan guna dipanjatkan pada Allah, yang ternyata hasil tidak  lebih dahsyat dari pada petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Juga tentunya dalam rangka menghidupkan sunnah rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Karena secara umum orientasi doa beliau meliputi dunia dan akhirat. Siapa orangnya yang tidak ingin bahagia dunia dan akhirat... Maka dari itu sudah selayaknya kita jadikan beliau panutan dalam hal apapun termasuk dalam berdoa.


Wallahua'lam






 
Sumber bacaan
_________________
#https://rumaysho.com/19550-doa-sapu-jagat-paling-sering-dibaca-nabi.html

#https://almanhaj.or.id/11208-doa-memohon-petunjuk-dan-takwa.html
 
#https://muslimah.or.id/7608-doa-mohon-petunjuk-ketaqwaan-iffah-dan-kekayaan.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar