Jumat, 02 Oktober 2020

NIKMATNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN PETUNJUK ILAHI

Secara fitroh manusia, semua orang pastinya  pingin hidup senang, hidup bahagia. Senang biasa ditandai dengan ketenangan, ketentraman, kenyamanan (ayem tentrem) dan kepuasan.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu diwakili oleh berlimpahnya harta (rumah mewah, baju mewah, mobil mewah, perhiasan mewah, dst) biasanya hal ini sering dirindukan oleh orang-orang yang sudah lama hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu diwakili oleh posisi jabatan dan kedudukan sehingga kemana pun ia berada  akan selalu dihormati orang. Dan hal ini biasa dirindukan oleh orang yang gila hormat.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu jika selalu didampingi pasangan ke manapun ia suka. Dan hal ini biasa dirindukan oleh orang-orang yg sering berjauhan dengan pasangan.

Namun kalau kita mau jujur benarkah anggapan- anggapan tersebut selalu berlaku jika orang sudah mendapatkan apa yang dirindukan?
Coba kita telaah dan perhatikan, kehidupan orang-orang kaya di sekitar kita, secara keumuman mereka makin bernafsu menumpuk harta tanpa memperhatikan halal haram, juga mngabaikan hak keluarga karena waktu banyak dihabiskan untuk mencari harta.
Demikian juga orang-orang yg gila jabatan, berani berkurban seluruh hartanya guna meraih apa yang diinginkan, dan di saat ia sudah mendudukinya, ia akan berlaku semau gue seakan-akan kekuasaan dan jabatan akan berlaku selamanya, tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kedailan orang-orang yang di bawahnya.
Demikian juga bisa kita lihat model orang yang pasangannya selalu di rumah, bukan jaminan harmonis, bahkan tidak sedikit terjadi cekcok karena kebosanan.

Dari sini bisa kita fahami kebahagian atau kenikmatan yang selama ini banyak dirindukan orang hanyalah bersifat semu dan sementra (sak klenyeran). Misal nikmatnya makan ya haya di saat berada di lidah yang bisa berasa, di saat sampe tenggorokan dan seterusnya sudah tidak bisa dirasakan kembali.
Demikian juga nikmatnya baju mewah paling banter satu hari harus dilepas untuk dicuci dan di saat memakainya kembali rasa nikmatnya sudah pudar.

Lha terus bagaimana kita bisa merasakan nikmatnya hidup yang selamanya?
Ya tentunya kalau kita hidup dilandasi iman dan ilmu.
Iman merupakan kekuatan ruhiyah yang bisa menyebabkan nikmat bertahan. Adapun untuk bisa iman ternyata kita  butuh ilmu syar'i. Maka berbahagilah bagi orang-orang yang selalu berada dalam majelis ilmu sebagai pertanda Allah menghendaki kita mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya yakni surga. 
Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Mengapa orang beriman dan berilmu bisa merasakan kenikmatan hidup selamanya, kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat ( sebagaimana doa yang selalu dilantunkan, ya doa sapu jagad)?
Ingatlah bagi orang-orang beriman kenikmatan hidup tidak ditandai dengan berlimpahnya dunia, kenapa? Ya karena ia meyakini :

1. Dunia itu lebih rendah dari sayap nyamuk.

Dari Sahl bin Sa’ad berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).

2. Dunia akan hancur

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)

3. Dunia adalah fitnah

# Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

# Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

# Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita” (HR. Muslim)

4. Dunia adalah fana

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat.

 Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).  

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.[HR. Muslim 2957]


Maka apakah orang beriman tidak butuh dunia? Tentunya tetap butuh karena kenyataannya kita juga masih hidup di dunia, yang masih butuh sandang pangan  dan papan. Namun bagi orang yang beriman dunia hanya sebagai wasilah untuk mendapatkan kenikmatan yang sebenarnya, 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Dan dalam hidupnya selalu bermodalkan sabar dan syukur sehingga dalam setiap nafasnya selalu mengandung kenikmatan, ketentraman dan kenyamanan. Karena setiap apa yang menimpa dirinya selalu dipandang kebaikan dari Allah.

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar” (HR. Muslim)

Ternyata mudah bukan? Cara meraih kenikmatan hidup, harus bermodal iman dan ilmu, yakni dengan sabar dan syukur.

Itulah petunjuk ilahi yang harus kita tetapi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar