Rabu, 14 Oktober 2020

ISTIGHFAR



Istighfar pada sebagian orang diucapkan ketika melakukan kesalahan, ini benar dan sangat wajar.
Ada juga yang sudah menjadikan kebiasaan dalam rangkaian dzikir. Hal ini juga tidak salah dan emang sangat dianjurkan.

Ada satu hal yang kita juga perlu tahu, bahwa tanpa merasa ada kesalahan pun bagi kita orang yang beriman wajib membacanya sebagaimana disebut dalam QS. At Tahrim(66) : 8

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)

Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

Dan dalam hal ini Rasulullah juga telah mencontohkannya, bahkan dalam sehari tidak kurang dari 70 - 100 kali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari) 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika menjelang kematiannya) sedang bersandar padanya. Lalu beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَأَلْحِقْنِى بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang sholih.” (HR. Bukhari no. 5674. Lihat Al Muntaqho Syar Al Muwatho’)

Beristighfar memiliki makna bahwa manusia meminta rahmat dan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah telah menjanjikan dalam Q.S An Najm : 32 bahwa ampunan-Nya sungguh maha luas. Allah akan mengampuni siapa pun yang pernah berbuat dosa, menerima taubat mereka, memaafkan dan menutupi kesalahan hambanya.

Istighfar merupakan bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap umat-Nya. Dengan memperbanyak istighfar, Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan manusia serta mendatangkan rizki dan kemudahan pada manusia.
 
Dan bacaan istighfar yang paling sempurna adalah penghulu istighfar (sayyidul istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta [Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau].” (HR. Bukhari no. 6306)

Disamping itu semua ada sesuatu yang kita  juga perlu mencermatinya sehingga dalam mengamalkannya bukan hanya karena sebuah rutinitas namun lebih dari itu, yakni kita membaca bener-bener ada ruh nya, sangat terserap dalam hati dengan penuh kemantapan dan keyakinan. Yakni dengan memahami dan meyakini keutamaan-keutamaannya, diantaranya :

1. Mendatangkan-ampunan dari Allah.
" Maka aku katakan kepada mereka; Mohon-lah ampun kepada Rabb-mu sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun." {QS.Nuh :10-12}

2. Mengatasi kesulitan dan terbukanya pintu rizki.
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda :
"Siapa yang senantiasa beristghfar maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada cara mengatasinya serta memberi rezeki kepadanya dari sumber yang tidak disangka – sangka”
(H.R Abu Daud)

3. Menambah kekuatan.
"Dan (hud berkata): "Hai kaum-ku,mohon lah ampunan kepada Rabb-mu lalu bertaubatlah kepada-Nya,niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas-mt dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu." {QS.Hud :52}

4. Memperoleh banyak kenikmatan.
" Dan hendak-lah kamu meminta ampun kepada Rabb mu dan bertaubat kepada-Nya,niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada mu sampai kepada waktu yang telah di tentukan." {QS.Hud :3}

5. Turunnya rahmat.
" Hendak lah kamu meminta ampun kepada Allah,agar kamu mendapat rahmat." {QS.An naml :46}

6. Sebagai kafaratul majlis.
"Barangsiapa yang duduk dalam satu majlis(perkumpulan orang) lalu di dalamnya banyak perkataan sia sianya atau(perdebatan) kemudian sebelum ia bangkit dari majlis membaca (istighfar)
Subhaanakallahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik"
" Maha suci Engkau yaa Allah dan aku memuji-MU dan aku bersaksi bahwa tiada Allah melainkan Engkau,aku meminta ampun dan bertaubat kepada-MU.
" Maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya selama di majlis itu." {HR.Turmudzi,Nasa'i,ibnu Hibban,abu daud dan al hakim}

7. Terhindar dari azab Allah.
" Dan tidak lah Allah akan mengazab mereka,sedang mereka meminta ampun." {QS.Al-anfal :33}

Semoga tujuh point di atas dapat menambah nilai plus dalam istighfar kita, kuantitas bisa diistiqomahi, kualitas makin bisa dirasakannya.

Jumat, 02 Oktober 2020

NIKMATNYA HIDUP DI BAWAH NAUNGAN PETUNJUK ILAHI

Secara fitroh manusia, semua orang pastinya  pingin hidup senang, hidup bahagia. Senang biasa ditandai dengan ketenangan, ketentraman, kenyamanan (ayem tentrem) dan kepuasan.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu diwakili oleh berlimpahnya harta (rumah mewah, baju mewah, mobil mewah, perhiasan mewah, dst) biasanya hal ini sering dirindukan oleh orang-orang yang sudah lama hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu diwakili oleh posisi jabatan dan kedudukan sehingga kemana pun ia berada  akan selalu dihormati orang. Dan hal ini biasa dirindukan oleh orang yang gila hormat.

Adakalanya orang beranggapan bahagia itu jika selalu didampingi pasangan ke manapun ia suka. Dan hal ini biasa dirindukan oleh orang-orang yg sering berjauhan dengan pasangan.

Namun kalau kita mau jujur benarkah anggapan- anggapan tersebut selalu berlaku jika orang sudah mendapatkan apa yang dirindukan?
Coba kita telaah dan perhatikan, kehidupan orang-orang kaya di sekitar kita, secara keumuman mereka makin bernafsu menumpuk harta tanpa memperhatikan halal haram, juga mngabaikan hak keluarga karena waktu banyak dihabiskan untuk mencari harta.
Demikian juga orang-orang yg gila jabatan, berani berkurban seluruh hartanya guna meraih apa yang diinginkan, dan di saat ia sudah mendudukinya, ia akan berlaku semau gue seakan-akan kekuasaan dan jabatan akan berlaku selamanya, tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kedailan orang-orang yang di bawahnya.
Demikian juga bisa kita lihat model orang yang pasangannya selalu di rumah, bukan jaminan harmonis, bahkan tidak sedikit terjadi cekcok karena kebosanan.

Dari sini bisa kita fahami kebahagian atau kenikmatan yang selama ini banyak dirindukan orang hanyalah bersifat semu dan sementra (sak klenyeran). Misal nikmatnya makan ya haya di saat berada di lidah yang bisa berasa, di saat sampe tenggorokan dan seterusnya sudah tidak bisa dirasakan kembali.
Demikian juga nikmatnya baju mewah paling banter satu hari harus dilepas untuk dicuci dan di saat memakainya kembali rasa nikmatnya sudah pudar.

Lha terus bagaimana kita bisa merasakan nikmatnya hidup yang selamanya?
Ya tentunya kalau kita hidup dilandasi iman dan ilmu.
Iman merupakan kekuatan ruhiyah yang bisa menyebabkan nikmat bertahan. Adapun untuk bisa iman ternyata kita  butuh ilmu syar'i. Maka berbahagilah bagi orang-orang yang selalu berada dalam majelis ilmu sebagai pertanda Allah menghendaki kita mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya yakni surga. 
Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Mengapa orang beriman dan berilmu bisa merasakan kenikmatan hidup selamanya, kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat ( sebagaimana doa yang selalu dilantunkan, ya doa sapu jagad)?
Ingatlah bagi orang-orang beriman kenikmatan hidup tidak ditandai dengan berlimpahnya dunia, kenapa? Ya karena ia meyakini :

1. Dunia itu lebih rendah dari sayap nyamuk.

Dari Sahl bin Sa’ad berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).

2. Dunia akan hancur

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)

3. Dunia adalah fitnah

# Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

# Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

# Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita” (HR. Muslim)

4. Dunia adalah fana

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat.

 Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).  

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.[HR. Muslim 2957]


Maka apakah orang beriman tidak butuh dunia? Tentunya tetap butuh karena kenyataannya kita juga masih hidup di dunia, yang masih butuh sandang pangan  dan papan. Namun bagi orang yang beriman dunia hanya sebagai wasilah untuk mendapatkan kenikmatan yang sebenarnya, 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Dan dalam hidupnya selalu bermodalkan sabar dan syukur sehingga dalam setiap nafasnya selalu mengandung kenikmatan, ketentraman dan kenyamanan. Karena setiap apa yang menimpa dirinya selalu dipandang kebaikan dari Allah.

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar” (HR. Muslim)

Ternyata mudah bukan? Cara meraih kenikmatan hidup, harus bermodal iman dan ilmu, yakni dengan sabar dan syukur.

Itulah petunjuk ilahi yang harus kita tetapi.





Selasa, 03 Maret 2020

RASULULLAH TELADAN DALAM BERDOA

Sebagai manusia biasa kita semua menyadari bahwa kita banyak diliputi kekurangan dan hanya Allah lah yang Sempurna.  Disamping banyaknya kekurangan ternyata kita juga banyak kemauan dan keinginan, yang tidak semuanya mampu kita penuhi walau mengerahkan segenap kekuatan. Berkat pertolongan Allah lah semua urusan jadi serasa lebih mudah.

Permohonan pertolongan kepada Allah, dalam Islam disebut doa. Sehingga bisa kita fahami doa merupakan kebutuhan manusia sebagai seorang hamba yang lemah. Dan doa itu sangat menguntungkan kita di dunia juga di akhirat, karena bagi orang-orang yang mau berdoa akan dikabulkan juga akan mendapat pahala. 

# Allah SWT berfirman :

(وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ)

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [Surat Ghafir 60]

Ada tiga bentuk pengabulan doa dari Allah, sebagaimana hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri ra, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tak ada seorang muslim yang berdoa meminta sesuatu yang tidak mengandung dosa dan pemutusan tali kekeluargaan kecuali akan diberi oleh Allah satu diantara tiga hal : dikabulkan segera doanya sesuai yang ia minta atau disimpan di akhirat atau digantikan dengan pencegahan bahaya yang akan terjadi padanya." (HR. Ahmad no. 11133, Al-Bazzar, Abu Ya'la dan Al-Hakim)

Yang tak mau berdoa akan dimurkai Allah
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka padanya." (HR. At-Tirmidzi no. 3373)

Dalam hadits dari Nu'man bin Basyir,  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Doa itu ibadah". (HR. Abu Daud no. 1479, At-Tirmidzi no. 3369, Ibnu Majah no. 3827. Dishahihkan oleh Albani dalam shahih At-Targhib, no. 1627)

Berhubung doa dalam Islam termasuk  ranah ibadah maka dalam implementasinya perlu diperhatikan cara kerjanya sesuai petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Secara umum doa dibagi menjadi dua :
1. Doa di dalam shalat
2. Doa di luar shalat

Adapun doa di dalam sholat sudah tidak bisa ditawar dalam melakukannya harus persis sebagaimana yang Rasulullah contohkan, sebagaimana hadits

صلوا كما رأيتموني أصلي

Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. (HR. Bukhari)

Adapun untuk doa di luar shalat yang sering menjadi pemenuhan kebutuhan hajat manusia, pada hakikatnya dengan bahasa dan susunan kalimat apapun Allah sangat memahaminya karena Allah emang Maha Mengetahui. Jangankan yang dilafadzkan, yang dalam hati pun Allah mengetahuinya.

# (إِنَّ ٱللَّهَ عَـٰلِمُ غَیۡبِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ عَلِیمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ)

Sungguh, Allah mengetahui yang gaib (tersembunyi) di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. [Surat Fathir 38]

Dan yang penting untuk kita fahami bahwa ada kalanya bahkan sering sekali pemikiran manusia meminta sebatas yang menjadi hajatnya sendiri dengan cakupan yang sangat sempit. Padahal Rahmat Allah itu sangat luas.
Adapun rasulullah sudah banyak mencontohkan lafadz doa hajat manusia dengan bahasa yang simpel namun sarat makna. Dan hal ini dikarenakan keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yakni beliau diberikan jawami’ al kalim, yaitu kemampuan untuk berkata-kata ringkas namun padat dan luas maknanya. Demikian pula dalam keumuman doa-doa beliau.

Berikut contoh doa pemenuhan hajat manusia yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

1. Doa sapu jagad

رَبَّنَا آَتِنَا فِي  الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.   

ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR.

Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa :

دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:اللَّهُمَّ آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

 وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 doa yang paling sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “ALLOHUMMA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. (Artinya: Ya Allah, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, 8:187-188; Muslim, no. 2690]
 
Maka dalam aplikasinya,
Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya, “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim, no. 2690)

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, “Tidaklah seorang nabi maupun orang saleh berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fath Al-Bari, 2:322)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat kesehatan, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik, serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. 

Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam doa ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.

Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Adapun ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ bersifat umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17:13)

2. Doa kelapangan rizki/kekayaan
Kita semua manusia sangat mendambakan kehidupan yang menyenangkan, dengan terpenuhinya segala yang diinginkan.
Sehingga secara keumuman orientasi pikiran  hanya pada yang bisa dirasa dan dilihat oleh kasat mata. Namun beda dengan cara pikir rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang jauh lebih ke depan, disamping mohon kecukupan dunia ternyata dalam berdoa lebih mendahulukan kebaikan agama dengan mohon petunjuk, ketaqwaan dan penjagaan, yang tertuang dalam hadits berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى» )

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:
/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”
(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya)

Doa ini mencakup 4 permohonan agung; yaitu: memohon petunjuk, takwa, terjaga dari hal buruk (‘iffah) dan kecukupan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Kitabnya Bahjat Qulûb al-Abrâr berkata mengomentari hadits tersebut: “Ini adalah di antara doa yang paling komprehensif dan paling bermanfaat. Tercakup dalam doa ini permohonan kebaikan agama dan juga dunia. Karena al-hudâ (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat.

Sedangkan at-tuqâ adalah amal shalih dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan hal itu, (pengamalan) agama pun menjadi baik. Sebab agama adalah (memuat) ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan yang benar; dan itulah al-hudâ. Sedangkan menunaikan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, itulah at-tuqâ.

Adapun al-‘afâf (‘iffah ; menjaga diri dari hal yang buruk) dan al-ghinâ (kecukupan, kekayaan) terkandung di dalamnya menjaga diri sehingga tidak bergantung pada sesama makhluk dan tidak menautkan hati pada mereka. Juga merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla dan rezeki-Nya, serta merasa qana’ah (menerima) apa yang ada, dan mendapatkan kecukupan yang membuat hati menjadi tenang. Dengan demikian terwujudlah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan hati ; dan inilah kehidupan yang nyaman (hayat thayyibah). Maka barangsiapa yang diberi anugerah petunjuk, takwa, diri yang terjaga dan kecukupan, maka ia telah menggenggam kebahagiaan dunia dan akhirat. Tercapailah untuknya semua yang didambakan, dan selamat dari setiap hal yang ditakutkan.

Dari dua contoh doa di atas, akan sangat melelahkan kalau kita harus merangkai kata seluruh kebutuhan guna dipanjatkan pada Allah, yang ternyata hasil tidak  lebih dahsyat dari pada petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Juga tentunya dalam rangka menghidupkan sunnah rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Karena secara umum orientasi doa beliau meliputi dunia dan akhirat. Siapa orangnya yang tidak ingin bahagia dunia dan akhirat... Maka dari itu sudah selayaknya kita jadikan beliau panutan dalam hal apapun termasuk dalam berdoa.


Wallahua'lam






 
Sumber bacaan
_________________
#https://rumaysho.com/19550-doa-sapu-jagat-paling-sering-dibaca-nabi.html

#https://almanhaj.or.id/11208-doa-memohon-petunjuk-dan-takwa.html
 
#https://muslimah.or.id/7608-doa-mohon-petunjuk-ketaqwaan-iffah-dan-kekayaan.html


Sabtu, 08 Februari 2020

TERJAGA AIB DUNIA AKHIRAT

Sebagai manusia tidak bisa kita pungkiri bahwa kita tidak selamanya baik, dan tidak pula selamanya benar. Adakalanya terpeleset berbuat kemaksiatan baik dalam skala kecil maupun besar. Hal itu wajar namun yang perlu dilakukan adalah segera memperbaiki diri dengan tidak berlarut-larut di dalamnya dan bertobat kepada Allah atas segala kesalahan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون ) حسن. صحيح الترغيب والترهيب [ 3139 ].

Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).

Aib diri secara adab islami untuk ditutupi bukan untuk diumbar atau diceritakan pada orang lain dengan kebanggaan, agar Allah berkenan untuk mengampuninya. Coba kita perhatikan hadits berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ)

Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk ) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk ). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990 )

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Rasul bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu – padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR Bukhori Muslim).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

"Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunyikan aib). [Riwayat Abu Dawud dan Nasâ-i].

Dari hadits di atas  Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan pada kita agar selalu metutup aib diri dengan mengedepankan rasa malu sehingga berhak mendapatkan ampunan Allah SWT

Begitu indahnya Islam, didamping mengajarkan bagaimana bersikap terhadap aib diri juga mengajarkan untuk menutupi aib saudara jika sempat mengetahui baik dengan sengaja atau pun tidak sengaja.
Nabi shalallahu alaihi wasallam telah bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ 
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. 
Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” [HR. Tirmidzi]

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim]

Coba kita perhatikan hadits di atas, Allah SWT memberikan jaminan menutup aib di dunia dan akhirat.
Aib ditutup di dunia bisa kita bayangkan dan rasakan, yakni kita tidak perlu malu lagi jika bertemu dengan manusia. Namun bagaimana aib ditutup di akhirat, apakah kepentingannya buat diri kita?
Untuk dapat membayangkannya dan dapat merasakan urgensinya, kita simak firman-Nya

(یَوۡمَ یَجۡمَعُكُمۡ لِیَوۡمِ ٱلۡجَمۡعِۖ ذَ ٰ⁠لِكَ یَوۡمُ ٱلتَّغَابُنِۗ وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَیَعۡمَلۡ صَـٰلِحࣰا یُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَیِّـَٔاتِهِۦ وَیُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ)

"(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
[ Surat At-Taghabun 9]

Selanjutnya mari kita simak tafsirnya, 
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

9. يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ((Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan)
Yakni pada hari kiamat, sebab manusia akan dikumpulkan pada hari itu di padang mahsyar untuk mendapat balasan, serta katika itu manusia akan dikumpulkan dengan amalannya, nabi akan dikumpulkan dengan umatnya, orang zalim akan dikumpulkan dengan orang yang dizaliminya, dan orang yang terdahulu akan dikumpulkan dengan orang yang terkemudian.

ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ( itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan)
Yakni hari manusia saling menagih haknya, orang yang benar akan menagih hak terhadap orang yang batil, dan tidak ada kerugian yang lebih besar melebihi ketika calom penghuni surga menagih calon penghuni neraka, seakan-akan penghuni neraka mengganti kebaikan dengan keburukan dan kenikmatan dengan azab, sedangkan penghuni surga kebalikan dari itu.
Kalimat (غبنت فلانا) jika kamu menjual atau membeli dari seseorang namun kerugian harus ditanggung oleh orang tersebut, itulah makna asal kata (الغبن). Sehingga orang yang merugi adalah orang yang kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya di surga.

وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّـهِ وَيَعْمَلْ صٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ(Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya)
Yakni barangsiapa yang beriman dan melakukan amal shaleh maka ia berhak untuk dihapus kesalahan-kesalahannya.

Alhamdulillah jelaslah sudah sekarang mengapa kita perlu menjaga aib diri, yakni agar Allah SWT berkenan memberikan ampunan. Dan mengapa pula kita perlu menutupi aib saudara muslim, yakni agar kelak Allah menutupi aib kita di saat kesalahan-kesalahan ditampakkan dengan mengampuninya. Sehingga layak untuk mendapatkan surga-Nya.

Wallahua'lam


Bekal hidup di akhir zaman



Saat rasulullah masih hidup beliau menyatakan bahwa jarak antara beliau dengan hari kiamat adalah sebagaimana dua jari. Hal ini telah dinyatakan dalam sebuah hadits, 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.

Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.”[ Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h).

Adapun jarak diutusnya beliau dengan hari ini sudah mencapai 1441 tahun. Jika diasumsikan usia manusia sebagaimana sunnah yaitu 60 tahun maka sekarang sudah mencapai 24 generasi, bukan waktu yang singkat. Dalam arti masa kita sekarang sudah makin mendekati apa yang beliau nyatakan dahulu.

Dalam menjalani hidup di akhir zaman banyak orang dipusingkan dengan apa yang perlu dilakukan. Ada yang mendesain rumah aman dari gangguan, ada juga yang berfikir untuk mencari lokasi aman dari hantaman. Namun tidak begitu bagi orang-orang yang beriman. Mereka hidup sebagaimana apa yang dituntunkan kekasihnya yakni nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Tempat dimana pun berada tidak masalah karena yang terpenting adalah kesiapan ruhiyah. 

Ada sebuah kisah yang patut menjadi  perhatian guna diterapkan dalam kehidupan sekarang yang sudah di akhir zaman.
"Seorang lelaki badui datang kepada Nabi SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat datang?”
“Apakah yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Beliau balik bertanya.
Lelaki itu menjawab, “Tidak ada, kecuali kecintaanku kepada Allah dan RasulNya…”
Dengan tersenyum, Nabi SAW memberi jawaban singkat, “Kamu bersama orang yang kamu cintai…
Orang tersebut berlalu dengan gembira.
Sahabat Anas bin Malik yang saat itu hadir dalam perbincangan tersebut dan meriwayatkan kisah ini berkata, “Tidaklah kami bergembira seperti gembiranya kami mendengar sabda Nabi SAW yang sangat singkat tersebut, yakni: ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.” 

Perhatian rasulullah shalallahu alaihi wasallam di saat ditanya kapan datangnya hari kiamat tidak serta merta menjawab waktunya namun lebih pada memperhatikan apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya. Maka  demikian juga  kita hendaknya tidak perlu terlalu ribut untuk memprediksi kapan waktunya tapi lebih melihat kenyataan dengan apa yang sudah dan akan disiapkan yaitu dengan resep yang sangat simpel yakni cinta Allah dan rasul-Nya.

Resep di atas memang sangat simpel namun jika diselami bekal cinta Allah dan rasul-Nya mempunyai makna yang sangat dalam. Karena konsekuensi cinta adalah tunduk dan taat. 
Maka dengan kata lain untuk dapat menjalani hidup di akhir zaman dengan tenang dibutuhkan ketundukan dan ketaatan pada Allah dan rasul-nya secara totalitas, tidak setengah-setengah dan tidak juga sepotong-sepotong atau yang sering disebut dengan istilah kaffah.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah  208
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ)

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Agar kita dapat menjalani Islam secara kaffah tentunya diperlukan banyak ilmu yang dapat menuntunnya. Maka perbanyaklah waktu yang digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu Allah guna meraih kecintaan-Nya dan kecintaan rasul-Nya. 

Setelah kita memahami bekal utama menghadapi kiamat adalah Islam kaffah. Maka untuk lebih memantapkan dan memotivasi diri bahwa kiamat benar-benar akan datang, kita perlu tengok hadits berikut :
"Sebaik-baik hari saat matahari terbit adalah Jumat; hari saat nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat,” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Kiamat akan datang pada hari Jumat itu adalah suatu kepastian. Namun Jumat yang kapan hanya Allah yang maha mengetahui.
Allah SWT berfirman :
(یَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَیَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّیۖ لَا یُجَلِّیهَا لِوَقۡتِهَاۤ إِلَّا هُوَۚ ثَقُلَتۡ فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَا تَأۡتِیكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةࣰۗ یَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِیٌّ عَنۡهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ)

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Surat Al-A'raf 187]

Wallahua'lam



MUFLIS



Sudah pernah dengar kah kita apa itu muflis ? Kalau sudah alhamdulillah, selanjutnya kita juga perlu memahami maksudnya.
Sebelumnya mari kita simak penuturan rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits berikut :

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman.  Ia pernah mencela saudaranya, Menuduh tanpa bukti (memfitnah), Memakan harta, Menumpahkan darah orang,
Memukul orang lain (tanpa hak).
Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah kebaikannya kepada orang-orang itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 6522)

Coba kita perhatikan hadits di atas,
Muflis atau Orang yang rugi/bangkrut sesungguhnya adalah orang yang rugi/bangkrut di akhirat. Bukan sebagaimana kebanyakan orang yang selama ini menganggap rugi hanya dilihat dari sisi materi di dunia, harta habis, ludes tidak tersisa, tidak dapat untung  untuk diri sendiri setelah melakukan banyak kebaikan, sehingga dalam otaknya hanya mau berbuat jika dirinya diuntungkan.

Namun kaca mata Islam lebih jauh ke depan dalam memaknai rugi/bangkrut yaitu rugi yg kekal abadi kelak di akhirat yakni neraka yang sangat panas. Karena emang rugi/bangkrut di dunia masih bisa diusahakan mencari solusi untuk bangkit kembali, bisa jadi dengan mencari sebab-sebabnya dan berusaha untuk memperbaikinya. Namun kalau sudah di akhirat sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya, yang ada hanyalah hasil akhir dari yang sudah diperbuat sebelumnya.

Selanjutnya mari kita cermati kembali hadits di atas, datang menghadap Allah dengan membawa banyak pahala shalat, puasa dan zakat. Dan perlu diketahui bahwa pahala ibadah akan didapatkan jika dalam melakukannya benar-benar ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntutan rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka bagaimana dengan kita?
 Padahal kalau kita mau sedikit muhasabah ibadah yang kita lakukan belum ada jaminan dapat pahala dari Allah. Dari sisi jumlah belum banyak yang tertunaikan, dari sisi kualitas bisa jadi karena kurang bisa menjaga ikhlas dari awal sampai akhir dalam beribadah atau juga kurang sempurna belum sebagaimana petunjuk rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka apakah yang  bisa kita banggakan dalam menghadap Allah? Modal ibadah tidak seberapa kedholiman serasa menjadi kebiasaan.

Selanjutnya akan kita ulas sedikit kedholiman yang akan membawa bencana kelak di akhirat, yakni :
#  Mencela saudaranya,
 jaman milenial gini sudah menjadi hal yang lumrah untuk saling mencela dengan berbagai macam alasan dan hampir pada semua bidang kehidupan. Kedholiman serasa menu harian, na'udzubillahiin dzaalik.
# Menuduh tanpa bukti (memfitnah), 
sudah jarang kita temui orang yang menghidupkan syariat tabayyun kecuali sedikit, yakni bertanya terlebih dahulu akan apa yang sedang dan telah terjadi pada orang yang berkompeten sehingga menghasilkan berita yang terpercaya. Bukan menuduh asal apa yang dilihat secara kasat mata saja, yang belum tentu kebenarannya.
#Memakan harta, 
Dengan kondisi ekonomi global yang makin terpuruk, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir manusia untuk berusaha sekuat tenaga dalam memenuhi kebutuhan hidup guna mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga. Dengan cara apa saja yang bisa dilakukan. Sehingga masalah halal haram tidak terlalu menjadi bahan pertimbangan dalam bertindak. Bagi yang sangat beriman pastinya berusaha untuk selalu menjaganya. Namun kebanyakan manusia  adalah asal dapat asal bisa hidup. Sehingga memakan harta saudara dengan cara bathil tidak menjadi masalah baginya. Padahal di akhirat urusannya panjang.
# Menumpahkan darah orang,
Begitu kacaunya kehidupan di akhir zaman, serasa segala kemauan manusia wajib tertunaikan walau harus meniadakan nyawa seseorang, na'udzubillahi min dzaalik.
#  Memukul orang lain (tanpa hak). 
Biasa terjadi hanya karena salah faham reflek tangan bertindak. Apalagi kalau merasa benar lebih membabi-buta tanpa memperhatikan level kesalahan yang bisa jadi pukulan melebihi semestinya. Astaghfirullah...

Semoga kita makin tersadarkan, dalam hidup, kedholiman yang berpeluang besar terjadi dengan mudahnya sangat perlu untuk direm agar kelak kita tidak merugi  di saat menghadap Allah SWT. Apalagi dengan type ibadah yang pas-pasan.
Hablumminallah dan hablumminnas harus benar-benar diselaraskan dalam peningkatannya agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Wallahua'lam